Ini adalah cerpen yang ditulis Hanif Arrazi saat masih di kelas 8a (Constantinople). Cerita yang terjadi ini adalah kisah nyata. Waktu itu hanif memang dipindahkan ke belakang dan duduk di kursi yang reot.
Namaku M.Hafidz Arrasyid, namun biasa disapa Rosyid. Aku adalah anak di SMPIT Al-Furqon Bengkulu. Aku duduk di kelas 8a. Aku termasuk anak yang sok tau namun pandai bicara di depan orang banyak, tapi kalo nyontek atau ngepek aku sangat anti banget. Sehari-hari, aku selalu ceria dan suka bercanda dengan teman-teman.
Pada suatu hari, kami sekelas akan merubah posisi tempat duduk. Hari itu sangatlah biasa bagiku karena aku selalu mendapatkan posisi yang baik. Tapi, Allah berkehendak lain.
“Rosyid, kamu duduk di sudut kiri ustadz bagian belakang.”perintah ustadz.
Sambil melihat perlahan “Yang itu tad?” tanyaku perlahan sambil menunjuk tempat duduk itu.
“Iya, cepat duduk sana duduk!” perintah ustadz agak galak karena ustadzku mungkin lagi emosi atau sebagainya.
Dengan perlahan aku perhatikan meja dan kursi itu. Lacinya sudah hilang setengahnya. Kursinya sudah goyang-goyang seperti gedung yang kena gempa dengan suara “ciiit….” yang sangat mengangguku. Apa lagi teman-teman bilang di sudut kelas itu ada hal aneh.
Aku pun protes. “Tad, kok saya di sini?”
“Sudah, duduk sana. Terima apa adanya.”
“Kasian, kasian, kasian, hahahaha!” ucap temanku sambil menertawakanku.
Dalam hatiku mengapa ustadz menempatkanku disana? Apa yang membuatku agak keberatan duduk di sana. Mungkin karena kondisinya seperti itu aku kurang seer saja. Tapi, apa boleh buat, aku harus terima dengan lapang dada.
Jam pertama adalah pelajaran biologi. Aku harus konsentrasi dan memperhatikan karena ini pelajaran yang amat sangat banyak menginggat.
“Assalamualaikum, anak ustadzah?”
“Wa’alaikumussalam.”
“Hari ini kita akan ulangan harian tentang bab kemarin. Semuanya siapkan peralatan kalian!”
Hari itu adalah hari yang harus aku lalui dengan penuh kosentrasi karena pelajaran ini banyak menghafal. Dengan kursi tersebut apakah aku akan dapat melalui ini dengan baik? Sebuah pertanyaan yang harus direnungi oleh diriku karena aku sangat terganggu dengan kursi yang seperti itu. Hal itu yang membuatku tak dapat berkosentrasi.
Kertas pritest sudah ustadzah bagikan, dan tinggal mengerjakan tugas tersebut. Ketika aku mengerjakan soal, suara kursi pun terdengar, ciiit…., hal itu yang harus aku hindari. Aku berfikir bagaimana kursinya tidak berbunyi dan bergoyang.
“Apa yang harus kulakukan dengan hal seperti ini. Coba aku tidak banyak bergerak agar tidak goyang.”dalam hatiku.
Aku langsung mengatur posisi duduknya agar kursi itu tidak bergoyang. Aku pun mengerjakan soal dengan teliti. Aku merasa ada hal yang lain dari biasanya, karena biasanya dalam mengerjakan soal, aku sangat lasak dan selalu bergerak. Itulah yang membuat nilaiku selalu nyaris di bawah nilai .
Selama mengerjakan soal, aku sama sekali tidak menggerakan badan agar kursi itu tak bergoyang. Tak terasa ulangan pun usai. Rasanya aku bisa mengerjakan soal itu dengan mudah. Hatiku tenang setelah mengerjakan ujian tersebut.
Biasanya, kami langsung mengoreksi hasil ujian dengan cara menukarkan lembar jawaban kepada teman di sebelahnya. Hatiku deg-degan. Tak kuasa diriku mendengarkan hasil dari usahaku dari ujian tadi. Ternyata, aku mendapatkan nilai 10. Sungguh aku tak percaya denagn nilaiku yang begitu memuaskan. Hatiku yang ciut berubah 180 derajat menjadi gembira.
Tak terasa pembelajaran akan berakhir. Seperti biasa, ustadz memberikan informasi singkat sebelum pulang.
“Anak-anak ustadz yang sholeh, ustadz mau menanyakan kepada Rosyid. Bagaimana kabarmu ketika kamu balajar di kursi itu?”
“Saya sangat senang tad, karena saya bisa konsentrasi duduk di sini.” jawabku dengan semangat.
“Rosyid, kenapa kamu bilang duduk di sana menambah kosentrasi?” tanya temanku.
“Bisalah, karena biasa” jawabku singkat.
“Begini anak ustadz semua, ustadz sengaja menaruh Rosyid duduk di sana karena ada hikmah yang terdapat dari kursi tersebut.”
“Hikmah, apa hikmahnya tad?” tanya temanku.
“Hidup kita bagaikan kursi tersebut, apabila bergoyang, maka akan timbul sesuatu yang menganggu diri kita. Ketika Rosyid duduk di sana, pasti dia tidak mau menggoyangkan badannya agar kursi itu tidak berbunyi. Kemudian dia bisa konsentrasi dalam belajar karena kelemahan Rosyid tidak bisa konsentrasi apabila badannya bergoyang. Ustadz selalu memantau Rosyid dalam belajar. Oleh karena itu, ustadz tau kelemahan dia.”
“Ooo….., seperti itu, pantaslah nilainya tinggi tadi tad!” seru temanku.
“Kalau seperti itu, saya mau duduk di kurdi itu tad!” minta temanku yang lain.
“Saya juga, saya juga!”
“Kelemahan kalian berbeda dari Rosyid. Untuk saat ini, ustadz baru mengetahui kelemahan Rosyid. Tidak mesti ustadz yang mencari kelemahan kalian dalam belajar. Tapi carilah kelemahan kalian itu agar dapat belajar untuk menghindari hal-hal yang merugikan kalian. Mengerti!”
“Mengerti tad!”
Ternyata itulah yang membuatku tidak dapat konsentrasi. Sekarang aku sadar, apa kelemahnku dalam belajar. Terima kasih ustadz, terima kasih teman-teman, terima kasih kursi inspirasi.
****
SEKIAN
Diposting di Facebook ada 12 juni 2010
Berikut ini beberapa komentar di facebook
Manthono Agus
ha ha ha, pacak nian hanif ko...
Padek padek... Mudah2an bukan dlm rangka menyindir ustad he he
Padek padek... Mudah2an bukan dlm rangka menyindir ustad he he
Hanif Arrazi
YO LAAH
Susi Bund' YasomarAndalusia
Good Story....! Sprtinya Tzh dah prnah dngr kisah ne versi lisannya...he..he,.
Hanif Arrazi
itulah, jangan remehkan arrazi
Susi Bund' YasomarAndalusia
Hidup Cik Hanif...!!!
Dhamar PriaSopan
wouy awak dak d tag --a
Hanif Arrazi
makasih
-Zhaki Ntu Gue-
padek nif!!!
Hanif Arrazi
makasih
Raden Muhammad Fajri
Itulah yang membuat nilaiku selalu nyaris di bawah nilai ...
No comments:
Post a Comment